Book
Reformasi Sektor Keamanan; Panduan Untuk Jurnalis
Pada pertengahan Mei 1998, sejarah mencatat tumbangnya kekuasaan Orde Baru setelah berkuasa lebih dari 30 tahun. Dominasi politik elit militer berkurang, sementara kekuatan baru elit sipil tumbuh. Ruang kebebasan berekspresi mulai terbuka, termasuk berpartisipasi dalam mekanisme pengambilan kebijakan di parlemen dan pemerintah, baik di pusat maupun daerah.Wacana sektor keamanan yang dulunya tertutup, kini mulai menjadi diskursus publik, dan dibiarkan terbuka. Setidaknya, pembicaraan itu mengalir di lingkaran mahasiswa, akademisi, dan organisasi masyarakat sipil (OMS), termasuk organisasi jurnalis. Perbincangan tentang militer, kepolisian dan intelijen pun bermunculan, menghalau tabu dan mitos keangkeran tema itu pada zaman Orde Baru.Dekonstruksi tabu dan mitos itu telah melempangkan jalan bagi pelembagaan keterbukaan dan menjaga kesinambungan wacana kritis di sektor keamanan. Eksistensi wacana, pro-kontra perdebatan, hingga solusi teknokratis realis maupun idealis yang berkembang 10 tahun terakhir tidak terlepas dari “jasa”komunitas ini. Tentu tercatat pula sumbangan positif dari parlemen, pemerintah dan aktor keamanan dalam menuntaskan reformasi sektor keamanan (RSK), meskipun capaian yang ada tampaknya belum lagi maksimal.Kalangan media dan jurnalis adalah bagian tak terpisahkan dari upaya mendorong, mempengaruhi dan memastikan keberlangsungan proses RSK. Di tengah ruang kebebasan pers yang sempit di masa Orde Baru maupun ruang yang lebih terbuka saat ini, kalangan pers - baik di level media nasional maupun media daerah -- tetap dianggap sebagai salah satu faktor penting dalam ihwal mendemokratiskan wacana RSK di tengah publik.
No other version available